Pemotret Itu Memulung Api Oleh: Nurochman Sudibyo YS.

Pemotret Itu Memulung Api
Oleh: Nurochman Sudibyo YS.

Kutau engkaulah pengabadi cuaca dengan menu keliling. Sepanjang usia memutar kampung dengan warna cahaya. Mengisi kepala untuk segala informasi desa, serasa menyambangi setiap keranda. Sembari mencatat aroma lapar, sampai kembung perutmu. Mengambil gambar juga memulung api. Membawa rasa pulang dan sayang untuk beratus naskah drama orang-orang mati. Dengan sisa catatan yang kau curi, di bawah tempat tidurmu. Sungguh tikus pun gelisah seumur-umur. Menuliskan nama sendiri di atas api yang tak pernah kau cipta. Seraya mencaplok dunia lain. Kau pusing-pusingkan kepala, manakala piring beling di dapurmu saling silang bersaing untuk diterbangkan.

Kutau kau bermimpi jadi Resi, duduk di beranda basah sejajar dengan kursi almarhum begawan. Sebangku dengan empu yang lebih dulu memecah batu-batu. Jika kau mati nanti namamu bisa sejajar dengan Rosihan Anwar. lalu kau tulis puisi dan dituang ke dunia maya. Negeri impian barumu menyiarkan wajah lewat blogg, yutub, email, FB dan twitter. Semua orang menyanjung diri sendiri. Seperti dunia dalam permainan tak berperi, namun kadung terpatri. Seperti semangkuk soto yang enak menurut mulut dan isi perutmu.

Kutau sejatinya kamu masih malu, pergi jauh dari rumah, tak mungkin kau jalani selagi mudah mabuk darat. Tak banyak bicaralah engkau, menulis puisi atau cerita pendek saja bingung mencari judul. Diberi nama anak atau diri sendiri seperti menunjukan eksistensi tiada arti. Kau makin menjauh dengan keringat berpeluh. Duduk terpisah di tepian yang sangat jauh, namun matamu jalang, esemes pun berseliweran seakan semua orang mau kau kalahkan dengan isi pesanmu. Sungguh ejakulasi dini, asem urat dan spilis kelaminmu.

Kutau kau mulai belajar, menghilangkan jarak teramat jauh. Mau belajar lagi, anak-anak kian bertambah banyak, hidup terhimpit seluruh ruh. Terpaksa memilih jadi pemotret dan memulung api. Sisa kehidupan mengais keberuntungan. Mungkin saja nasib tak selalu bergantung. Masih ada teman yang bisa diajak berbagi untung. Meski yang kau makan itu sebenarnya cuma balung si buntung.

Kutau, masih ada yang takut dengan gayamu atau risih dan kasihan atas kelemahan yang dirancang abu-abu. Secepatnya ajak teman seolah-olah ditugaskan. Lumayan jika tiap kebohongan menghasilkan kesombongan. Energi apa lagi yang mendorongmu. Jagal saja orang lain. Sekarang jaman informasi narsisme, eufemisme dan negeri pura-pura. Anak kucing merasa telah jadi singa. Itulah kau, jangan diam dan tak lakukan apa-apa, selagi masih ada; maklum. Och bagaimana orang berbuat apa-apa? Kalau semua itu tak menyimpan apapun dan bahakan tak ada apa-apanya.

Kutau seberapa banyak kau timbun usia di daun-daun, selalu saja lupa tak bayak yang mau bertepuk tangan. Apalagi tersenyum untuk semua yang kau lakukan. Kameramu mengarah tidak dengan kesungguhan. Sekarang bangga dicaci maki para wali yang merasa resah dengan ulah terompahmu. Saat mata dipincingkan, Selalu kau punguti api, hingga rusak kahanan negeri ini. Mengubur esensi lokal di gelembung tanggal kelahiranmu.

2011

Komentar