PENYAIR INDRAMAYU JAWA BARAT INDONESIA, DALAM PUISI

NUROCHMAN SUDIBYO YS

Lisus di Padang Kurusetra

Kita berusaha lepas dari gulungan angin, di antara jutaan panah yang tumpah

diri berbagi seperti seorang perwira Astina bersemangat menang perang

debu beterbangan menebarkan amis darah juga teriakan dan jerit panjang

hanya surup matahari pembatas waktu, tapi hati terus berlaga

malam masih berkemulkan angin dan debu peperangan yang tak berkesudahan

sulit menentukan mana nilai-nilai yang selama ini dipertaruhkan

siap membunuh, atau dibunuh. Tak ada waktu untuk menakar jarak

Lihatlah ke atas langit. Angin lisus kembali datang, tak diundang

laksana prajurit pilihan yang sengaja dipermainkan jadi bidak catur

peperangan, harga diri, inovasi tiada henti. Sulit untuk disebut korupsi

tapi angin lisus, topan, dan badai yang datang dari tengah lautan emosi

semakin membungkus dengan alus setiap elusan bagus setiap strategi

datang mengatur posisi, maju terys mengumbar orasi, membuncah takkan pecah

didukung tiap lapisan penyangga, bertopeng, kuda tunggangan dan tameng baja

tak ada desas-desus, penundaan serangan apalagi pertimbangan

setiap langkah sudah menghitung angka kemenangan. Sekali lagi

ini perang di padang kurusetra dimana keberlangsungan negeri taruhannya

Lisus, tak lagi bisa ditunda datang dan perginya. Ia hadir sebagai musuh

dan barisan muda melihat kekotoran di manamana. Risih juga rasanya

seperti berperang menghadap ke cermin. Ruang dan dinding bercermin

bergelut dengan lisus yang halus tapi terus mendengus

laksana anjing kudisan ia virus yang akan terus menularkan jutaan bakteri

penghancur. Tak ada pertimbangan, perang terus dilanjutkan

kita masih punya bermilyar vaksin kebaikan, jangan lengah saat dibalikkan

Jangan aneh dengan isyue yang dibuat atau dituduhkan. Itu isyarat lawan

kita adalah generasi serdadu dengan senjata pikiran bukan buruh picisan

yang gampang rubuh ketakutan oleh senjata dan pukulan

berbagai peluang telah ditebar untuk selalu kita kalahkan. Dengan pedang

terhunus, kemul lisus dimusnahkan. Bukan jadi kasus aras urus tak becus

lihat di ufuk timur Arjuna mengarahkan senjatanya ke angkasa

Jaya Sena mengayun-ayunkan gadanya ke langit jingga

Nakula dan Sadewa berkelebat seperti kilat dan pedang mustikanya

sementara Dharma Kusuma mengatur siasat kejujuran

tangan ditata di atas dada, Sembari teriak ”Bapakku Pandu Dewanata,

istirahatlah dengan tenang di Nirwana, usai kumenangkan peperangan ini!”

kami bukan bangsa keturunan darah Astina yang durhaka pada negara

saksikan bermilyar tangan menyeret lisus angkara dan kita penjarakan

di rutan Amarta Pura. Pekat, lekat tanpa kebocoran, apalagi uang sogokkan.

11.



Nurochman Sudibyo YS. Pekerja seni dan budaya kelahiran Tegal 24 Januari 1963. Menulis Puisi, cerpen, Esai, catatan perjalanan dan geguritan. Dipublikasikan di berbagai media masa sejak tahun 90-an. Kumpulan Puisi Tunggalnya “Payung Langit” (1993), “Malam Gaduh” (1995), Soliloqui (1997) dan “Gerhana” (2000). Kumpulan Guritannya telah terbit di “44 Gurit” (2006), “Godong Garing Keterjang Angin” (2007), “Blarak Sengkleh” (2008), “Bahtera Nuh” (2009), “Pring Petuk Ngundang Sriti” (2010). Kumpulan Puisi Basa Cerbon; “Susub Landep” (2008), “Nguntal negara” (2009) Dan “Gandrung Kapilayu (2010). Kumpulan Puisi Tegalan “Ngranggeh Katuranggan”(2009). Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi bersama “Kembang Pitung Werna” (1992), “Kiser Pesisiran” (1994), Antologi Penyair Indonesia “Dari Negeri Poci” Th 1996, antologi puisi dan cerpen Indonesia moderen “GERBONG” Yogyakarta (Th.2000), “Antologi Penyair Indonesia HUT Jakarta” (1999), Antologi “Lahir Dari Masa Depan” Tasikmalaya (2001). Antologi “Dari Negeri Minyak” (Th.2001), Antologi “Sastrawan Mitra Praja Utama” (2008). Antologi “Pangikat Serat Kawindra” (2010), dan Antologi “Perempuan Dengan Belati di Betisnya” Taman Budaya Jawa Tengah (2010). Sebagai sastrawan tinggal dan menetap di Slawi Kabupaten Tegal. Berkali tampil membacakan puisi dan menjadi juri puisi di berbagai kota. Sejak awal tahun 2010 bersama Dyah Setyawati mementaskan lakon puisi secara berkeliling, dengan memadukan unsur tradisi guritan, tembang, suluk, wayangan dan tari bertajuk “Pangikat Serat Kawindra”, “Kupu Mabur Golet Entung”, “Kembang Suket”, dan “Nagari Corong Renteng”. Penyair dan dalang tutur ini sejak tahun 1990 menjadi Ketua Medium Sastra & Budaya Indonesia. Alamat Dukuh Sabrang, Kec. Pangkah Slawi Kab. Tegal: Mobile: HP.085224507144 – 087828983673. E-mail: nurochmansudibyoys@yahoo.co.id, sakti­_artmng@ymail.com dan Website: www.guritdermayon.co.cc.,www.kembangsuket.blogspot.com, www.tropong.com

Komentar