CERPEN: KUCLUK Karya Nurochman Sudibyo YS (Seniman dan Budayawan Indonesia)


KUCLUK 
Cerpen: Nurochman Sudibyo. YS (Ki Tapa Kelana)

Lembayung di ufuk langit Indrakila jadi penanda. Bukti negeri ini tengah mengalami konflik horisontal. Gerimis di tengah terik matahari menambah situasi kota di pesisir utara dengan penduduk mayoritas perempuan ini semakin tak menentu. Jalan-jalan kota yang indah penuh warna, sepi dan statis. 

Hampir di semua sudut kota dipenuhi grafiti. Keseragaman telah jadi pilihan pemerintah yang tengah berkuasa. Anehnya rakyat Cuma bisa diam, dicekam rasa takut dan perasaan tidak enak. Tak pelak kegiatan keseharian yang dinamis berubah menjadi perwujudan sikap rakyat yang apatis. Sampai datang waktu, dimana suasana kota jadi miris, kondisinya pun semakin bertambah krisis. “Hati-hati jika bertemu Kucluk!”, demikian bunyi ratusan pamflet bertebaran di dinding kota. 

Seruan ini sudah tentu menarik perhatian masyarakat. Akibatnya Indrakila serentak terjadi geger sosial. Biang persoalan adalah dampak dari pengaruh Kucluk yang tersiar kemana-mana. “Selanjutnya apabila anda terlanjur terlibat urusan dengan Kucluk, hindari tiga syarat ini: satu; Jangan mudah terpancing emosi dan melakukan kekerasan. Dua; Jangan sampai anda berhutang janji apalagi materi. Tiga; Jangan ambil tawaran manisnya, ingat itu berbahaya!” “Edan! siapa yang berani menyebarkan visrus Kuclukisme ini. Sungguh perbuatan melawan arus. Mustinya masyarakat jangan mau diprovokasi seperti ini. Bukankah Kucluk itu orangnya Papuanto. Pasti kalau kanjeng tau bakal marah dia. So, pasti akan ada yang jadi korban politiknya!” Seharian ratusan kucluk yang anti arogansi, berjalan mondar-mandir kebingungan. Kekuatiran mereka beralasan. Kucluk memang sosok yang arogan. 

Gara-gara publikasi murahan itu, membuat para Kucluk ngamuk dan mencak-mencak. Mereka serempak menemui Papuanto. Namun apa yang musti diadukan. Kucluk kenyataannya memang seperti itu. Sok kuasa, bentuk tindak lanjut kekuatan besar Kanjeng Adipati. Bahkan untuk urusan berdandan, gayanya lebih dari seorang pejabat. Tubuh pendeknya menampakkan usianya lebih dari yang sebenarnya. * Rumah para Kucluk sengaja ditata kondisi dan situasinya sama persis dengan penataan ruang kekuasaan Papuanto. Kursi Besar yang dapat berputar bahkan bisa memijit tubuhnya. Ruang tamu dengan segala asesoris, lampu kristal menggantung dengan banyak kursi tamu berkualitas super dijejer keliling tembok menghadap ke arah kursi kebesarannya. Di rambut Kucluk ada semacam tanda kalau lelaki dengan kulit hitam legam ini punya banyak kisah hidup. Matanya yang belo membuktikan ia lelaki yang jarang tidur. Bicaranya bernada tinggi, sangat cepat dan agak meracau. ini dilakukan untuk menunjukkan betapa ia seorang pekerja keras. Begitu juga ketika tengah berjalan, langkahnya sulit untuk diikuti.

Apalagi menebak jalan pikirannya. Tentu saja tak semudah menerka isi buah durian. Itulah kucluk. Sosok pemeberani dan dikenal pula sebagai spekulan dengan segudang pengalaman dan permainan berkekuatan ilmu supranatural. Bagi Kucluk, Ilmu pengetahuan dari berbagai aliran rata-rata telah mereka kuasai. Di masyarakat sekitar, Kucluk bukan lagi sekedar tokoh. Dia itu sudah jadi ikon Kanjeng. Bagi masyarakat di tingkat kecamatan, bahkan diseluruh kadipaten Indrakila peran Kucluk bisa lebih dari Kepala Desa bahkan seorang Camat sekalipun. Soalnya pihak keamanan di tingkat kecamatan saja segan. Mereka lebih baik berpihak pada kucluk dari pada harus berlawanan. Istilah mereka ada di garis lurus atau “segaris”. Kalau saja ada pilihan kuwu dengan syarat figur berwibawa, gemar mengurus masalah warga, dan memiliki relasi penting di berbagai lapisan kekuasan, meliputi kalangan politisi, sampai polisi, ditunjukkan dengan sederet daftar tamu sebagai bukti. Atau lebih lengkap lagi jika bukti-bukti bantuan yang dilakukannya terhadap masyarakat juga dibukukan, maka seorang Kucluk –lah pilihannya. * Sehari-hari Kucluk pergi ngantor. Demikian alasan yang disampaikan kepada istrinya.

Namun kantornya di mana?, Ia kerja apa?. Usaha dengan siapa dan bagaimana ia memperoleh uang?, Tak pernah lagi jadi bahan pemikiran keluarganya. Pasalnya suatu kali, ketika salah seorang tetangga bertanya soal pekerjaan yang dilakukannya. Selalu saja jawaban Kucluk tegas; “Saya lebih dari sekedar konsultan, bukan sekedar konsultan!” tegas mereka. Maklum karena SDM tetangganya mayoritas dibawah rata-rata. Sudah tentu mereka tak paham dan tak akan tertarik lebih jauh memahami makna jawaban Kuckluk. Persoalannya wajar, karena selama ini bagi mereka profesi di masyarakat kalau tidak Petani, Nelayan, ya pedagang, atau karyawan perusahaan, bahkan lebih kerennya pegawai negri. Kucluk tak perduli. Pokoknya ia bangga saja kalau diajak bercerita soal beberapa bekas tusukan celurit atau golok yang pernah menggores tubuhnya.

Wajahnya memang tidak sebersih orang lain. Penuh doret bekas pukulan benda tajam. Entah lukanya itu benar terjadi atau sekedar bikinan. Yang pasti, sering mereka lakukan untuk menjerat korbannya agar dapat diseret ke aparat hukum, dan menjadi duit dengan pasal penganiayaan. Ditengah masyarakat yang agraris, profesi ekonom dan pekerja profesi macam Kucluk kian tahun bertambah merebak. Hampir di beberapa desa bertumbuhan Kucluk-kucluk baru. Bahkan di masyarakat Indrakilla, peran Kucluk justru jurus tepat yang jadi pilihan para pengangguran berkelas. Tidaklah heran jika setiap hari rumah sakit menerima kedatangan para kucluk. Begitu juga kantor kepala dinas dan instansi pelayanan masyarakat. Bahkan Kucluk kadang nongkrong di Kantor Polisi, Samsat, Rumah Tahanan dan Masjid. “Edan! Edan tenan!” geram kang ii demikian panggilan ketua LSM kaum idealis yang punya nama asli Ahmad Ballawi. “Jaman sudah semakin gila. Orang macam Kucluk tidak seharusnya dibiarkan hidup! Mereka layaknya tinggal di penjara. Ini kan bukti pemerintah Indrakilla otoriter. Tidak bisa dibiarkan seenaknya. Anggota dewan rakyat harus kita tekan untuk cepat bertindak.

Dan, selaku LSM idealis, jelas ini tugasku!’ ujar kang ii, saat bicara di forum diskusi terbatas. “Kenapa bukan tugas kita kang? Anda tak mungkin bisa sendirian merubah kultur busuk sekarang ini?” tanya seorang peserta diskusi. “Maaf, saudara-saudara. Bukan aku tidak percaya pada kalian. Tapi sekali lagi maaf. Saya meragukan mentalitas teman-teman, apakah sudah sekuat dan setegar saya. Kayaknya saya belum bisa menerima sebelum melalui kajian dan ujian.” Tegas kang ii. Mendengan penjelasan kang ii, seluruh peserta pun manggut-manggut. Sampai selesai diskusi, salah seorang peserta lain menghampiri kang ii. “Maaf kang, apa benar di Indrakila ini tak ada orang lain yang moralitasnya lebih tinggi dari sampean atau setidaknya setara Kang ii gitu?” “Oke, Kawan, kita memang masih bisa berkawan. Tapi untuk soal mentalitas, sulit lah. Kacamata saya menilai hampir dari dua juta penduduk kota ini memelihara kotorannya. Ingat saya melihat dengan baik kotoran di tubuhnya! Bahkan saya punya bertumpuk data, dan kalau saya mau bisa menyeret mereka ke penjara.Tenang, kawan. Saya masih bisa bekerja sama dengan siapa saja yang memang saya sukai mesti untuk sementara. “And” jangan kaget jika ditengah jalan saya putuskan kerja sama itu secara sepihak, bisa dengan sms dari nomor HP istri saya atau saya sms sendiri dengan alasan saya sudah tidak lagi berbisnis, cukup adilkan?”

 “Gila juga orang ini. Semua orang di lingkungannya dinilai kotor. Kenapa ya? Sementara sikap dan pribadinya mau menang sendiri. Untuk soal Kucluk sih aku setuju dia disebut manusia kotor. Tapi kalau semua orang juga ikut kotor pasti ada sesuatu yang terjadi dalam otak kang ii.” Seharian Ruri merenung. Sampai kemudian ditemukan rumus untuk memahami daya pikir kang ii. “Yah…..ya…ya.. apabila kita sering melihat orang lain kotor, itu artinya mata kita pun tanpa sadar kotor. Tapi jika kekotoran yang kita miliki tak juga dirasakan, maka kita pun dengan tidak sadar pula bergaul dengan para kucluk. Ini karena min kali min sama dengan positif. Ya , aku tahu sekarang jawabannya. Kang ii. dengan sengaja melakukan protes pada peran Kucluk. Tapi ia memanfaatkan para Kucluk lainnya untuk menjaring pergerakan lembaganya.

“Wah…wah…wah…. Kalau demikian siapa yah yang sesungguhnya bukan Kucluk? “Hay, Rur? ngapain kamu, pagi-pagi melamun, apa sih yang kau pikirkan?” tanya Darsiwan. “Oh, kamu Wan, dasar mata-mata. Kerjanya ngagetin orang saja. Aku yah… beginilah, kalau lagi gak ada kerjaan ya merenung. Dari pada ngomongin orang aku ngomongin badanku sendiri Bos. Kamu sendiri dari mana, pagi-pagi sudah perlente ?” Ruri nyerocos balik nanya. Rur…rur. Kamu itu dibilang pengangguran banyak acara. Dibilang pengacara kerjanya nggak nyata. Dibilang advokat kamu belum SH. Dibilang pokrol kamu pun beracara. Tapi yah sudah aku tak perduli dengan urusanmu. Aku Cuma mau ngajak, ikut nggak? “Ke mana?” “ Ke seminar” “Seminar apa?” “Seminar para Kucluk” “Lho Peran kucluk diseminarkan gitu?” “Kayaknya memang begitu!” “Pembicaranya siapa?” “Tentu saja Kang ii dan kang Cecep. Mereka kan dikenal piawai untuk membahas soal Kucluk.” “Lalu pesertanya siapa To?” “Kamu ini gimana? Ya tentu saja para Kucluk dan pendukungnya, serta orang-orang lain yang menolak peran kucluk dan terbanyak ya, korban para Kucluk.” “Och, gitu. Ya udah aku ikut Wan. Sebentar aku ganti baju dulu.” “Ruri….Ruri… Pemuda kok ketinggalan informasi. Kucluk saja mampu mengakses ke mana-mana. Ech, ini yang intelektual kok malah cuma kuat melek tanpa energi dan gerak yang inovan. Mungkin gara-gara sering makan gaplek kali” Darsiwan terus saja ngedumel. Menjelang siang mereka duduk di antara para Kucluk di sebuah gedung yang layak untuk penyelenggaraan seminar. “To ini gedung baru ya?” “Bener Rur. Gedung ini sengaja dibangun pemerintahan Indrakilla untuk menambah kemegahan Universitas kebanggaannya.

Mungkin karena sudah kadung bikin lembaga pendidikan tinggi. Dari pada dibiarkan mati nggak, hidup juga tidak, maka dibangunlah terus. Siapa tahu di abad yang akan datang bisa jadi salah satu PTN di negeri ini.” “Wan, kok mahasiswanya sedikit?” “Yaitu, seperti juga seminar hari ini, untuk menunjukan keseriusan dalam kegiatan ditempatkan di kampus ini. Siapa tahu dari jumlah mahasiswa yang sedikit itu tertarik meramaikan kegiatan seminar,” Sampai dengan waktu yang ditetapkan seminarpun dimulai setelah mayoritas Kucluk Indrakila telah mengisi mayoritas kursi yang telah disediakan. `

Di deretan depan kang ii dan kang Cecep diserbu beberapa Kucluk. Mereka memberondongkan berbagai pertanyaan bahkan ada juga yang sedikit menekan pada kang ii agar lembaganya tidak menyentuh persoalan dan kinerja Kucluk. Lebih tidak menyenangkan lagi manakala seminar akan dimulai Kang ii sudah dibentak-bentak oleh salah satu Kucluk yang biasa mangkal di dinas Pengairan. Ia meminta kang ii agar menghentikan kajian karakteristik terhadap kuclukisme, dengan nada mengancam lagi. Suara hiruk pikuk pun berlangsung seru. Kondisi gedung semakin menghangat manakala dua ratus orang pendukung kang ii datang dengan pakaian hitam berkantung putih. Mereka meneriakkan idelisme untuk melawan Kuclukisme. “Cukup saudara-saudara.

Di sini akan dibuka kegiatan seminar. Jadi untuk soal lain, apalagi yang menyangkut konfrontasi dua pihak, singkirkan dahulu. Tahan dulu emosi, mari kita ikuti penyampaian materi dari Kang ii atau Muhammad Balawi,!” tegas Jail yang siang itu bertugas sebagai moderator. Dalam sambutannya kang ii menuturkan bahwa, untuk memerangi Kucluk hanya satu, Menumpas kesadaran diri tentang profesi Kucluk dan memerangi hawa nafsunya. ”Saya yakin semua orang tidak berkehendak untuk jadi seorang kucluk sekalipun pada paparan sosial tipis sekali untuk disebut sebagai calo atau penjahat berperkara,” kata kang ii mengawali pembicaraan. “Sebentar kang ii, bukankah anda bisa mengkritik dan melakukan pergerakan di Indrakila juga berkat eksistensi Kucluk?” “Maaf, anda pikir saya bisa dipengaruhi oleh seorang Kucluk saja. Saya ini LSM. Kajian saya bebas menentukan kerja sama dengan membangun kemitraan, tanpa melihat kucluk atau bukan.

Tapi kalau mereka juga sudah berani mengusik isi dapur saya maka jangan tanya, akan kita siapkan brosur gugatannya!.” Jelas Kang ii. “Sebentar, saudara-saudara biarkan Kang ii menyampaikan makalahnya terlebih dahulu. Untuk pertanyaan ada waktunya. Sekali lagi maaf!” tegas Moderator. “Kalau begitu kang ii juga……………………………….?” Ceplos Supriyatna tak perduli dengan penjelasan moderator. “Maaf, yang anda maksudkan itu……Kucluk maksud kamu itu kan…..?” tegas moderator. “Aku kucluk atau bukan Kucluk, tidaklah jadi soal. Kalau yang anda maksud aku berkongkalingkong dengan para maling, garong, mantan koruptor, wartawan bodrek, tukang gertak dan jeger-jeger itu, semata untuk mempermudah lembagaku memperoleh data, fakta dan pengamanan.

Wajar saja kan?” “Tapi kenapa kang ii mengajarkan pada orang lain tentang kebenaran? Bahkan kepada teman-teman wartawan anda, diajarkan pula oleh sampeyan tehnik bermain mata, main sulap, bahkan jurus lidah berdalih, dan seni membangun pasiwor untuk merendahkan orang lain sebelum kemudian orang itu ditendang karena tidak lagi anda perlukan, ya kan?” “Wah, wah…. anda ini sudah banyak tahu dan sok tahu.

Maunya apa sih? Mau mendirikan LSM diatas LSM atau mau menyaingi saya. Sory belajarlah terlebih dulu dari pengalaman. Berpuluh tahun saya kiritisi berbagai kebijakan. Juga saya terjang eksistensi para kucluk. Anda lihat sendiri saya masih tetap berdiri. Apa anda sudah berhitung untuk melawan saya. Sekali lagi maaf, saya ladeni untuk soal adu cocot maricot ini kapan saja! ” “Maaf,………..sekali lagi ini belum saatnya forum debat apalagi debat kusir, yang tak terdaftar dalam acara ini!” sela Moderator dengan maksud meluruskan forum seminar. “Tapi kang, saya hanya berniat mengingatkan sampeyan. Seluruh keluarga anda itu kan banyak yang bekerja di pemerintah, kalau anda melahirkan kucluk-kucluk baru, lalu siapa sebenarnya yang kau musuhi itu?” Salah seorang peserta seminar tak juga meladeni keinginan moderator. Ia justru respon pada apa yang diperdebatkan, karena yang dipersoalkan juga masalah eksistensi Kucluk. “Okey….. okey ….jika maunya sampeyan-sampeyan begitu aku ladeni. Maaf moderator kayaknya diskusi kita lebih afdol dengan metoda seperti ini. Audien kayaknya lebih tertarik dengan konsep-konsep pemikiran yang dibagun dari perbincangan mengarah ke tema. Begini saudara-saudara, Kucluk itu ada atau tidak ada tetap saja lahir.

Urusan banyak orang yang tidak menyadari kalau dirinya adalah Kucluk, tidak jadi soal. Saya sekalipun jika memang benar saya tak lebih baik dari seorang Kucluk itu juga hak semua orang.” Jelas kang Ii. “Saudara-saudara percuma saja kita diskusikan soal negeri kita yang mulai gerah dengan kehadiran para Kucluk.

Kalau semua disini oleh pembicara juga bisa dikatakan Kucluk ya percuma saja. Ini artinya tidak ada pemilahan antara mana Kucluk dan yang bukan Kucluk,” seru Ruri. “Huh…..hu…….Hu……” serempak audien pun menyuarakan ejekan. Diskusi tiba-tiba tidak dapat diteruskan. Di sudut ruangan seorang peserta melemparkan kursi ke arah depan. Kontan dari arah depan beramai-ramai pula balas menyerang si pelepar kursi. Begitu juga dari sudut kanan dan kiri ruang seminar, tangan tangan seperti kesurupan. Saling jotos dan gebuk. Korban luka-luka pun bertambah banyak. Ruang diskusi berubah dari adu mulut ke adu jotos. Sepulu menit kemudian, karena pihak keamanan tak mampu menguasai situasi, Salah seorang anggota polisi yang sejak awal sudah mengira bakal ribut dengan segera mengeluarkan pistol. Empat buah tembakan cukup membuat perserta diskusi yang bertikai otot terperangah dan mencari selamat. Dari luar gedung puluhan petugas kepolisian dengan sigap memasuki ruangan dan berhasil menangkap beberapa tokoh yang berseteru.

“Perhatian, karena kegiatan ini sudah tidak lagi menggunakan pemikiran, maka seluruh panitia diminta untuk bertanggungjawab di kantor. Kepada aktor yang jadi pemicu, bersiap untuk kami periksa. Dan untuk peserta yang jadi korban biaya pengobatan ditanggung oleh panitia. Selanjutnya diskusi masalah Kucluk ini kami larang!” tegas inspektur polisi. “Huh………………….huh……………..ini kan insiden, Dan? Masak pukul rata? Sela salah seorang yang duduk di barisan depan. “Sudah jangan protes! Ini juga perintah komandan. Untuk menghindari masalah lebih rumit di waktu yang akan datang, penyelenggaraan Seminar dan diskusi-diskusi yang bersifat politis dan massal dilarang dilaksanakan. Ini untuk sementara waktu sampai kemudian muncul kesadaran bersama!” tegas Inspektur pula. Hadirin peserta seminar pun kecewa. Selepas kepergian petugas,

Peserta yang mayoritas para Kucluk pun mengahiri kekecewaannya dengan saling mengumpat. Mereka membakar kemarahan dengan memukul-mukul tangannya ke arah langit. Jerit dan teriakan mereka semakin membuat gaduh suasana. Tapi lima menit kemudian suara mereka hilang ditelan senja yang temaram. Kadipaten Indrakila pun menyisakan dendam para kucluk.*** • *Nurochman Sudibyo YS. Adalah Seniman, Budayawan, Pemerhati seni, Tulisannya berupa Cerpen, Puisi, Esai dan catatan kebudayaan, banyak dimuat di berbagai media massa Pusat dan Daerah. Karya-karyanya juga telah dibukukan baik tunggal maupun bersama penulis lain. Sejak tahun 1990 menjadi Ketua Medium Sastra & Budaya Indonesia.

*Nurochman Sudibyo YS.
Adalah Seniman, Budayawan, Pemerhati seni, Tulisannya berupa Cerpen, Puisi, Esai dan catatan kebudayaan, banyak dimuat di berbagai media massa Pusat dan Daerah. Karya-karyanya juga telah dibukukan baik tunggal maupun bersama penulis lain. Sejak tahun 1990 menjadi Ketua Medium Sastra & Budaya Indonesia.

Komentar