BIOGRAFI DAKRI SANG PENEMU TERLENGKAP FOSIL PURBA SEMEDO bag.5



DAKRI DI MASA PERTAMA MENEMUKAN DAN MENGUMPULKAN FOSIL PURBA

 Situs Semedo itu terletak di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah,” demikian penjelasan Pak Dakri setiap kali ditanya perihal Situs yang menggegerkan itu. Dari sekian banyak hasil temuan fosil kehidupan purba yang ditemukannya, ia kumpulkan, didokumentasikan serta dipelihara secara di kediamannya. Karena dari bulan ke bulan, dan tahun ke tahun hasil temuannya kian meningkat dan bertambah banyak, Wajar pula jika kemudian rumah pak Dakri dipilih jadi pusat informasi keberadaan Situs Semedo.

Orangnya sederhana, pendiam dan penyabar. Demikian kesannya manakala kita bertemu dengan pak Dakri bin Salim. Ia adalah lelaki berusia 57 tahun yang menyandang status seniman yang bereksistensi di desa Semedo. Berpuluh tahun ia menekuni seni sungging wayang, seni ukir dan utamanya pengrajin batu mulia. Hal itulah yang kemudian mengantarkannya menuju babak awal terkuaknya tabir situs semedo. Utamanya setelah ia temukan benda-benda purbakala kurang lebihnya di awal tahun 1987.

Kenapa Pak Dakri banyak mengumpulkan fosil kehidupan purba? “Hal itu karena bentuk fosil tampak unik, menarik dan membuat batin saya bersimpatik. Itulah sebabnya saya  kumpulkan dan kemusian menempatkan fosil-fosil tersebut di halaman rumah  serta di sudut-sudut rumah, sebagai hiasan” jawabnya ringan dan sederhana.

Pada tahun 1995 Pak Dakri memperkenalkan fosil-fosil temuannya itu kepada Sunardi dan Daid (warga Semedo). Mereka pada akhirnya tertarik untuk ikut jalan-jalan ke dalam hutan. Ia  pun kemudian mulai menjelaskan perihal banyaknya fosil gigi yang ditemukan masyarakat Semedo di Sungai yang dikenal dengan sebutan Kerbau Dungkul, adalah gigi kerbau jaman purbakala yang pernah hirup berjuta tahun lalu. Istilah ini sangat akrab di masyarakat karena menurut Dakri para sesepuh desanya khususnya yang dikenal spiritual menggunakan Gigi Kerbau Purba tersebut sebagai sarana dalam membantu warga yang sakit panas.

Berikutnya di tahun 1998 Dakri mengajak Tanti putrinya mencari kayu bakar dan memancing di sungai Rengas, dekat hutan semedo. Inlah kali pertama Dakri memperkenalkan pada anaknya untuk mengetahui fosil-fosil purba yang ada di sekitar hutan Semedo. Dengan  kata lain  ia ingin memperlihatkan secara langsung lokasi yang banyak terdapat fosil pada anak gadisnya. Pada waktu itu Pak Dakri berhasil menunjukkan fosil tanduk kijang kencana dan lutut gajah kepadanya.

Pengenalan berikutnya di tahun 2003 Pak Dakri kembali menunjukkan temuan fosil kepada temannya yang bernama Duman dan Sunardi. Di Tahun 2003 itu pula ia ingat seseorang yang bernama Tarmuji; yaitu salah seorang guru SD Kedungbanteng, bermaksud baik untuk menyapaikan ditemukannya banyak fosil oleh Pak Dakri pada pemerintah. Dakri menyebutnya  orang pertama yang menyampaikan adanya fosil temuannya  kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tegal. Namun apa yang disampaikan oleh Pak Guru Tarmuji hanya secara lisan. Karena laporannya tidak tertulis, hal itu membuat laporannya tidak dapat ditindaklanjuti oleh Dinas terkait. Ini karena ditenggarai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal lapornnya dianggap oleh mereka kurang meyakinkan.

Baru pada tahun 2005, kala itu ketika Slamet Heriyanto Sekretaris LSM Gerbang Mataram baru saja usai menyelesaikan kegiatannya di SD Semedo, ia mampir dirumah Yusro juru kunci makam Semedo. Di sanalah Slamet Heriyanto bertemu Duman. Awalnya mereka bercerita seputar hiasan taman. Namun pada kesempatan itu Duman menceritrakan bahwa dirumahnya ada beberapa fosil yang ditemukannya. Seketika itu juga Slamet Heriyanto mendatangi rumah Duman, untuk melihat secara pasti. Duman pun mengantar Slamet Heriyanto untuk melihat fosil yang pernah ditemukan Sunardi. Lebih lengkapnya hari itu juga Slamet Heriyanto melihat fosil yang banyak di temuan oleh Dakri.

Saat itu dengan penuh penasaran, Slamet Heriyanto menanyakan kepada Pak Dakri;Apakah temuan tersebut adalah benar-benar fosil purba?”. Dakri cukup menjawab dengan dua kata sja “Iya benar!”. Lalu Slamet Heriyanto mengatakan dengan tegas bahwa fosil tersebut dilindungi Undang-Undang dan tidak boleh diperjual belikan. Dengan tersenyum Dakri pun  menjawab bahwa sama sekali ia tidak pernah menjual tulang yang sudah membatu itu, melainkan hanya untuk koleksi dan pajangan rumah. Kemudian Slamet Heriyanto meminta ijin kepadanya bahwa nanti temuan tersebut akan dilaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab.Tegal agar diakui oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal. Selain itu Slamet Heriyanto juga mengatakan kepada Dakri agar nanti diberi penghargaan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal.

Keesokan harinya, selama tiga hari berturut-turut Slamet Heriyanto datang kerumah saya untuk memberitahukan bahwa ia akan melaporkan terlebih dahulu kepada Bambang Purnama selaku Ketua LSM Gerbang Mataram. 

Esok harinya Slamet Heriyanto dan Bambang Purnama datang ke Semedo, mereka berdua langsung menuju rumah Duman. Mereka Duman, Slamet Heriyanto, dan Bambang Purnama masuk hutan sebelah Barat Semedo untuk mengambil gambar. Beberapa hari kemudian LSM Gerbang Mataram kembali datang kerumah Duman bersama Dakria dan Sunardi dalam rangka membentuk Tim sebagai pengaman situs Peninggalan Purbakala di Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal. Pada hari itu, Dakri kami dianggaplah okeh mereka telah menjadi satu Tim.

Konon keesokan harinya, LSM Gerbang Mataram menyampaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tegal tentang temuan fosil yang telah dikumpulkan oleh penduduk Semedo Diantara nama penemunya adalah Dakri, Duman dan Sunardi. Bahkan Ansori juga termasuk  salah satu warga Semedo yang diikutsertakan. Langkah lain dari LSM Gerbang Mataram yaitu menyampaikan temuan fosil oleh penduduk Semedo kepada Bupati Agus Riyanto meminta supaya Bupati Agus Riyanto datang ke Semedo. 

Mendengar kabar tersebut, Bupati Agus Riyanto pun akhirnya datang ke Semedo, Dakri pun diminta memindahkan fosil-fosil temuannya kerumah Duman dengan cara diangkut gerobag oleh warg Semedo bernama Sikin dan Tasikhi. Alasan pemindahan fosil tersebut karena di samping rumah Dakri sedang ada warga yang Hajatan. Suasana rumah pak Dakri saat itu sangat dekat dengan sound system tetangga yang tengah hajatan dan terdengar sangat keras bunyinya dan sangat tidak mungkin rumah Dakri dijadikan tempat berkumpul, artinya suasananya sangat meng ganggu.  Pemindahan fosil temuan Pak Dakri itu dilakukan untuk memberi kenyamanan bagi Bupati Agus Riyanto yang akan melihat langsung temuan fosil purba tersebut.

Keesokan harinya Bupati Agus Riyanto mengatakan bahwa baik yang sudah menemukan ataupun masyarakat Semedo yang lain, jika menemukan jenis fosil maka harus diamankan dan tidak boleh diperjual belikan. Beliau berjanji bagi yang menemukan akan diberi imbalan demi mensejahterakan masyarakat Desa Semedo itu sendiri.

Selanjutnya, media elektronik maupun media cetak dengan gencar meliput berita hangat temuan fosil purba di Desa Semedo. Berita itu kemudian terdengar oleh pakar arkeologi. Untuk membuktikan kebenaran pemberitaan tersebut datanglah Tim ahli bidang Kepurbakalaan Dr.Harry Widianto bersama Timnya dari Balai Pelestarian Manusia Purba Sangiran dan dati Balai Arkeologi Yogyakarta yang begitu sadar akan potensi luar biasa Semedo dalam bidang Paleoantropologi, antropologi, paleontologi dan geologi serta berbagai disiplin ilmu kuarter lainnya.

Atas kehadiran mereka, kepada masing-masing penduduk setempat  yang telah menemukan fosil dimintai keterangan. Duman adalah orang yang pertama dimintai keterangan. Yang kedua Sunardi dimintai keterangan, yang ketiga Ansori dimintai keterangan, yang keempat Yusro namun ia tidak siap untuk dimintai keterangan karena merasa tidak ada sangkut pautnya dalam penemuan fosil. Selanjutnya yang kelima Pak Dakri dimintai keterangan. Kepada Pak Dakri, Dr. Harry Widianto bertanya; “Apa dasarnya Pak Dakri merasa yakin bahwa fosil lutut yang diketemukan itu adalah lutut Gajah?,” Dengan sederhana pak Dakri pun menjelaskan;” Menurut logika saya, sebesar-besarnya kerbau tidak akan sebesar gajah, begitu juga badak tidak akan sebesar gajah. Dan menurut saya pribadi hewan terbesar di dunia ini adalah Gajah,” demikian jawaban singkat disampaikan oleh Pak Dakri. Sembari tersenyum, Dr.Harry Widianto menyatakan pendapat Pk Dakri itu sangat benar.

Dari hasil pertanyaan yang telah dilontarkan itu kemudian Dr.Harry Widianto  membenarkan bahwa  Pak Dakri, Sunardi, Duman dan Ansori, sah sebagai penemu. Hari berikutnya Slamet Heriyanto menginformasikan kepada Tim Semedo bahwa dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tegal akan datang ke Semedo, mendengar kabar tersebut Pak Dakkri dan Sodara Duman menunggu di Makam Semedo. Disana, Drs.H.Sartono Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal meminta keterangan kepada Duman tentang siapa yang nomor satu , dua, tiga, empat dan lima.  Dengan cepat Duman menjawab nomor satu Yusro, nomor dua Duman, nomor tiga Sunardi, nomor empat Dakri, dan nomor lima Ansori. Yang mencatat hasil dari keterangan tersebut adalah Dra.Wuninggar selaku Kasie Pendidikan dan Kebudayaan. Sepulang dari makam, rombongan dari Dinas P dan K menuju rumah Pal Dakri.  Sejak saat itulah , tepatnya di bulan Juni 2005 Semedo diakui dan dinyatakan  secara sah oleh Pemerintah Kabupaten Tegal Sebagai Situs Peninggalan Purbakala.

Pada Tahun 2005 dilakukan penggalian Arkeologis oleh Balai Arkeologi Yogyakarta yang sepenuhnya dibiayai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal. Tim penelitian terdiri dari Dr.Harry Widianto (ketua tim), Drs.Muhammad Hidayat, Drs.Priyatno Hadi Sulistyarto, M.Hum, Dra.Indah Asikin N, Dr.Goenadi N, R.Aji Satriyo, Suwarno, Slamet Widodo, dan Ngadimin(anggota). Penggalian arkeologis saat itu berlokasi  di petak 26 Watu Gede.

Melangkah lagi di tahun 2006, Semedo ditetapkan sebagai Situs Manusia Purba berdasar temuan berupa alat-alat batu seperti kapak perimbas, bilah dan serut yang telah pak Dakri  temukan. Meskipun pada saat itu belum ditemukannya fosil Manusia Purba. Di Tahun 2006 dilakukan kembali penggalian arkeologis oleh Balai Arkeologi Yogyakarta berlokasi di petak 28 Teras Sungai Jolang. Tahun 2007, namun tidak dilakukan penggalian secara arkeologis.

Dan pada tahun 2007 petugas pengaman Situs Semedo membubarkan diri masing-masing karena dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu selama satu tahun 2007 tidak mengeluarkan insentif kepada petugas pengaman situs semedo. Sehingga tidak ada lagi komunikasi terhadap pihak terkait.

 BaruTahun pada tahun 2008 kembali dilakukan penggalian arkeologis  berlokasi di Petak 28 Rengas.

Dan di Tahun 2009 dilakukan penggalian arkeologis oleh Tim gabungan yang berlokasi di petak 28 Cempluk Wuni. Dan di Tahun 2010 tidak ada lagi kegiatan penggalian.

Meski pada Tahun 2011 tidak ada kegiatan penggalian secara arkeologis. Namun, pada bulan Mei 2011, Pak Dakri  berhasil menemukan pecahan atap tengkorak Manusia Purba. Saya menemukan pecahan atap tengkorak manusia tersebut di anak sungai Kalen Kawi petak 32. Saya sendiri akhirnya melaporkan temuan saya kepada Dr.Harry Widianto Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Delapan bulan ditelitinya pecahan atap tengkorak, Baru pada Desember 2011 Dr.Harry Widianto bersama Tim BPSMP Sangiran menyerahkan kepada saya kembali hasil penelitian pecahan atap tengkorak tersebut. Yang disaksikan oleh Sunardi, Duman, dan Tanti Asih,” jelas Pal Darki. 

Dari hasil penelitian, 2011 Dr.Harry Widianto dan Timnya menyatakan temuan atap tengkorak yang saya temukan terbukti sebagai Fosil Manusia Purba Jenis Homo Erectus yang berusia sekitar 700.000 tahun. Sebagai bukti hasil penelitian, saya diberi replika pecahan atap tengkorak Homo Erectus oleh sang peneliti. Selanjutnya Dr.Harry Widianto bertanya dengan minta pertimbangan kepada Pak Dakri. Ia menayakan apa yang Pak Dakri harapkan selanjutnya. Dakri pun menjawab; “Saya menanggapi karena sejak tahun 2005 Dr. Harry Widianto meneliti dengan serius di Semedo dan sampai sekarang terbukti hasil penelitianya terhadap manusia purba, saya pun meminta agar selanjutnya dibuatkan sebuah Museum di Semedo karena di Semedo lah pertama kali ditemukan Situs Semedo.

Kemudian Pak Dakri meminta penjelasan pada Dr. Harry Widianto apakah dirinya boleh membicarakan adanya temuan manusia Purba jenis Homo Erectus di temukan itu pada para   pengunjung situs semedo?. Dr.Harry Widianto pun lemudian memperbolehkan Pak Dakri  untuk menyebarluaskan informasi temuan Manusia Purba Homo Erectus di Semedo.

Puncaknya pada April 2012 Tim BPSMP Sangiran merealisasikan Pondok informasi Situs Semedo berada di rumah Pk Dakri. Yaitu di  Desa Semedo Rt 05 Rw 02. Saat itu sekaligus pula dilaksanakannya penggalian arkeologis dengan melibatkan mahasiswi UGM Jogjakarta. Penggalian arkeologis 2012 berlokasi di petak 28 Teras Sungai Jolang sebelah timur TP 2006.

Yang menjadi alasan Dr.Harry Widianto merealisasikan Pondok Informasi di rumah Pak Dakri, karena fosil-fosil yang telah ditemukan Pak Dakri sangat lengkap dan mewakili seluruh jenis komponen kehidupan zaman purbakala. Utamanya Berupa fosil binatang purbakala baik yang pernah hidup di darat maupun di laut.

Dengan kata lain; Yang berhak memindahkan Pondok Informasi Situs Semedo adalah Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Ungkapan bersejarah ini dibuat dengan sebenar benarnya oleh pak Dakri, sesuai  perjalanan Terbenuknya Situs Semedo. Pernyaaan itu oleh Tanti selaku putri tersayangya ia tuliskan di laptop da ia buka lebar-lebar kepada siapa saja yang mengigikan kebenaran,  berdasarkan adanya  saksi-saksi pada saat belum diakuinya Situs Semedo, hingga sekarang diakui dan dimanfaatkan semua pihak.

 Dalam tulisan kecil ‘PEGAKUAN TULUS PAK DAKRI’  terdapat Ucapan terimakasih yang disampaikan kepada semua pihak yang terkait akan keberadaan Situs Semedo.
Utamanya Ucapan terimakasih disampaikan kepada:
·         Petugas pengaman Situs Semedo (Dakri, Sunardi, Duman, Ansori) dan masyarakat semedo yang telah menjadi saksi perjalanan situs semedo.
·         LSM Gerbang Mataram yang telah melaporkan Situs Semedo secara tertulis (Bambang Purnama dan Slamet Heriyanto)
·         Bupati Agus Riyanto (pada tahun 2005)
·         Dinas Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Tegal yang sekarang menjadi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Drs.H.Sartono, Dra.Wuninggar dan stafnya)
·         Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran ( Dr.Harry Widianto dan Tim)
·         Balai Arkeologi Yogyakarta  (Drs.Siswanto dan Tim)

 Dan dakam akhir pernyataannya itu dituup degan:
  
Kalimat bijak : “Negara tidak mempertanyakan siapa nomor satu, dua, tiga, atau empat, tapi Negara menghargai siapa saja orang yang mampu membuktikan pelestarian Situs Semedo, utamanya yang sanggup memberi pembuktian, dan berupaya mempertahankan serta mengembangkan keberadaan Situs Semedo. Ditulis da ditandatagai Pak Dakri dalam kesaksiannya pada penulis di Semedo, 21  Desember  2013. (NSYS)

Komentar