BIOGRAFI DAKRI SANG PENEMU TERLENGKAP FOSIL PURBA SEMEDO bag.2


DAKRI DI MASA REMAJA

Dakri  alias Jangkrik, saat masih sekolah di Lumbung desa, sering tergiur untuk tidak berangkat sekolah karena bujukan kawan-kawannya yang tidak sekolah. Bapakku selalu ngawasi saya untuk sekolah. Tapi kawan saya Tirnya, dan Dirjo selalu mengabari bahwa banyak ikan di sungai Semedo. Kami kemudian merencanakan tawu mencari ikan dengan cara menambak sungai kecil. Biasanya siang hari kami mulai menambak sungai. Setelah itu kami bergantian menguras sungai yang ditambak. Tak berapa lama kami berebut menangkap ikan-ikan itu kami tangkap dan direnteng menggunakan rumput alang-alang. Ikannnya diantaranya lele, gabus, dan wader pari.

Kegemaran berburu dan mencari ikan menjadi hobinya setiap hari. Ia bahkan tak takut pada binatang buas. Beberapa jenis ular phiton, atau ular sawah warga setempat menyebutnya ular luwuk, cukup ia jerat lehernya dan digantung di tengah jembatan kayu. Keberanian Dakri menangkap ular membuat teman-temannya bangga. Itulah sebabnya ia memiliki banyak teman.

Dkri hoby mememelihara burung. Ia mencari anakan burung dari sarangnya yang berada di atas pohon jati. Anak-anak burung itu ia bawa pulang dan dipelihara dari kecil dengan cara diluluh cara makannya. Diantaranya burung Perkutut, deruk, ketilang, crokcokan, glatik dan cukcak ijo. Dulu murai, cukcak dan kacer sangat banyak di semedo.

Peristiwa Kebo Dungkul.
Suatu hari hobi memelihara burung yang disukai Dakri bertambah banyak. Menariknya karena memelihara burung dari susuan hingga besar, semua burung Dakri bisa dilepaskan dan pulang dengan sendirinya. Karena merasa kakanya memilhara banyak burung, adiknya ingin sekali makan daging burung. Untuk memenuhi keingainan adiknya, Dakri kemudian berjanji mengabulkan permintaan adiknya asalkan burung yang dipiara dari sangkar diuji bisa pulang atau tidak. Ternyata dari puluhan burung piaraannya semua bisa pulang namun dakri jengkel melihat ada perkutut yang lambat sekali pulangnya hingga asar. Burung itu asyik nangkring di pohon randu. Setelah temurun ke tanah dan mendekatinya burung  perkututnya dipegang dan disembelih dengan keris. Saat itu Dakri tak tau kalau itu adalah keris. Ia merasa menemukan sebilah keris yang ditemukan di Makam Mbah Buyut Semedo.

Saat itu saking kesalnya pada perkutut, keris dipotong lehernya sampai kebablasan, saat itu juga saya badannya bergetar, langsung sakit mendadak. Sebelum burung perkut dikuliti dan dibakar, badan saya panas demam dan meriang dan bicara sendiri kaya kesurupan. Sakit saya sampai 3 bulan. Akhirnya burung perkutut tak jadi dilakan dan oleh adik lelakiku akhirnya dikubur.  Mulai saat itu setelah sembuh keris yang kutemukan kemudian diberikan pada orang yang berhasil menyembuhkan dakri. Saat itu bapak mengundang soso Mbah Kajan dari Semedo. berkat ketekunannya mengobati Dakri ia pun bebuatnya sembuh. Mulai saat itu Dakri trauma pada burung Perkutut. Dalam sakitnya Dakri merasa didatangi Mbah Buyut Semedo yang kecewa karena Dakri telah mengecewakannya memberi Perkutut Bandar Petung bisa menjadi modal apalagi ditemukannya perkutut di hari Jumat kliwon bareng dengan keris tanpa wrangka  di bawah pohon jati.

Dakri ingat sekali saat mbah kajan mengobatinya dengan batu yang sering ia lihat saat nawu ikan di sungai. Bapak nya kemudian memberi penjelasanbahwa apa yang digunakan mbah kajan adalah untu gigi kerbau dungkul atau gigikerbau purba. Namun demikian tisak semua batu fosil gigi kerbau dungkul dapat digunakan sebagai pengobatan. Menurut bapak Salim tidak semua gigi kerbau purba dapat menjadi pusaka kerbau dungkul. yang bisa menjadi pengobatan adalah yang memiliki yang sudah dipegang para spiritual.

nyong angger kapan bae apa maning koh gelema nyekel manuk perkutut, dinein bae aku emong ora bakal gelem ngemek lan nyekel manuk kue, krana pernah terjadi awakku sampe sakit parah.”*** (NSYS)

Komentar