KAMPOENG SENI PAI DAN SEJARAHNYA

SEKELUMIT SEJARAH KAMPOENG SENI
Oleh : Nurochman Sudibyo YS.

Kesadaran akan keindahan dan kepariwisataan bisa tumbuh dan berkembang tidak dengan sengaja. Rasa kepedulian seperti ini memang bisa muncul oleh siapa saja bahkan dari kelompok umur apa saja. Buktinya keinginan pelukis WD Widodo (54) warga asli Kelurahan Kraton Kota Tegal ini Berhasil mewujudkan cita-citanya yang dirintis sekitar akhir tahun 2009. Dengan niat memiliki studio lukis yang bisa sekaligus menjadi galery karya-karyanya hingga terwujud sebuah permpungan Seni di PAI.

Karena Dodo --demikian akrab ia dipanggil, selain menjadi Ketua Komite Seni Rupa di Lembaga Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT), juga pemilik Galeri Wiet yang sudah dikenal di Tegl. Dodo meminta salah satu tempat untuk studio dan galerinya pada Kadis Dishubparsenbud H.Sumito Sip di tahun 2008. Permohonan Dodo dikabulban namun dikarenakan tidak ada modal dodo menunda rencana menbangun galerinya. Baru di akhir tahun 2009 ia kembali meminta izin pada Kepala Dinas PORAPARBUD Ir. H. MOH. Wahyudi. Didampigi Kawan sohibnya Wawan Hudiyanto wartawan Suara Merdeka, Fadil dan Isya Abwika, berhasil meyakinkan Kadis Poraparbud Ir.H. Moh. Wahyudi untuk mendirikan studio dan galery di bekas ruang pamer perindustrian yang ada di pintu masuk lama PAI.

WD Widodo pun kemudian diberi sebuah bangunan mirip ruko yang pernah dipakai menjadi ruang pamer perindustrian sewaktu pintu masuk ke Pantai Alam Indah masih di pintu lama samping selatan gerbang utama sekarang. Kios berukuran 6 x 4 meter itu kemudian dibenahi dan ditata oleh Dodo bersama kawan seperjuanganya Fadel M. yang juga pelukis. Dengan modal pribadi hasil penjualan lukisan pada pendukung gagasannya H. Sisdiono Ahmad. Selanjutnya Dodo dan Fadil, berdua melakukan proses berkaya dan memperkenalkan studio terbarunya kepada teman-teman perupa di Tegal dan sekitarnya.

Atas saran dan dukungan Aiptu Bambang Suwidagdo KanitPam Pariwisata Polres Tegal Kota. Ia menyarankan Gagasan Widodo menjadi Kelompok Sadar Wisata Kampoeng Seni yang dapat mendukung program pembangunan kebudayaan dan pariwisata di Kota Tegal yang salah satunya memberikan daya tarik pariwisata berupa pameran lukisan, pahatan, kriya dan batik khas Tegal serta pementasan budaya khususnya yanng bercirikan tradisi Tegal.

Kepiawaian Dodo dalam menata sanggarnya membuat banyak teman perupa di Tegal tertarik untuk mengikuti geraknya dalam berproses. Tak pelak berkat pergaulan dan kekeluargaan yang dibangun beberapa pelukis luar daerah pun berhasil direkrut untuk tinggal dan berkarya bersama di studionya. Jadilah sanggar yang dikelola WD Widodo ini dalam waktu tidaklah lama berubah menjadi sekaligus galeri yang juga mampu memasarkan karya-karya pelukisnya.


Setelah beberapa bulan berproses, pertengahan tahun 2010 Dodo menggagas terbentuknya Kampoeng Seni. Ide ini muncul mengingat karya-karya yang dilahirkan semakin lama semikin bertambah banyak.Apalagi selama ia berproses bersama teman-teman membuat beberapa lukisan tidak mungkin lagi dipasang. di bangunan lama yang hanya mirip gudang bertralis rusak. Gagasan membangun Kampoeng Seni inipun kemudian disampaikan kembali pada Kepala Dinas Poraparbud Ir. H. Moh. Wahyudi. Dengan pertimbangan memanfaatkan area kosong dan luas yang masih terhampar di bekas Taman Lalu Lintas PAI yang saat itu merupakan padang ilalang dan mirip hutan belukar yang tak terjamah.

Ide Gila
Gagasan Dodo membangun Kampoeng Seni di PAI tentu saja dianggap gila, dan tidak waras. Bangaimana mungkin OW. PAI yang tengah mengalami kemunduran dan penurunan pengunjung bahkan bisa disebut mengalami kerugian di sektor pengelolaan, eh malah mau ditambah lagi dengan membagun sebuah kampung yang bisa menampung masyarakat kesenian si kota Tegal. Namun bukan Dodo jika harus mundur dari niatan besarnya itu. Ia tidak perduli disebut gila. Buktinya dengan semangat dan dedikasinya meyakinkan banyak orang, ia pun berhasil meniti terwujudnya keinginan tersebut.

Keinginan Widodo dan kawan-kawan Perupa di Sanggar Seni PAI pun kemudian terwujud. Ir. Wahyudi mengajukan syarat hanya boleh membangun satu dua rumah bambu yang representatif. Selain itu bangunannya menampilkan arsitektur keindahan dengan tujuan memberi kemenarikan tersendiri pada potensi Obyek Wisata Pantai Alam Indah (PAI). Adapun wilayah lain yang ada di belakangnya menurut Ir. Wahyudi direncanakan untuk dijadikan khasanah Lomba Burung.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Keinginan Dodo yang memperoleh dukungan Kadis Poraparbud itu kemudian dirembug bersama-sama kawan senasib. Entah memperoleh dana dari mana, Dodo dan kawan-kawan dalam waktu tak lama berhasil membangun sebuah galery dari bambu dan ruang studio yang beratap welad sebagaimana gubug bambu hias di sarana wisata di berbagai daerah. Selanjutnya Dodo pun memperoleh sambutan kawan-kawannya yang juga tertarik untuk membangun gubug-gubug seni di sepanjang deretan galerinya. Akibat perkembangan yang tak disangka-sangka tersebut, Dodo kemudian meminta dukungan Dewan Kesenian Tegal untuk mendeklarasikan berdirinya Kampoeng Seni di PAI. Adapun tujuannya mengembangkan potensi yang telah dirintisnya hingga tidak hanya menjadi lahan kreasi seni lukis, tetapi juga bermacam kegiatan seni yang dapat menunjang kepariwisataan di PAI.

Salah satu bentuk keterlibatan dan kepedulian Dewan Kesenian Kota Tegal untuk mewujudkan rencana Dodo melauncing Kampoeng Seni adalah menyalurkan dana seni rupa dan bantuan dana dari DKT sebesar Rp 2 juta untuk merenovasi Atap goebug Bambu dan pemlesteran lantai Galeri. Bantuan berbentuk barang kebutuhan tersebut tentu saja sangat berarti bagi keinginan dan gagasan dodo.

Lagi-lagi gagasan brilian WD Widodo ini disambut baik oleh Kadis Poraparbud Ir. H. Moh. Wahyudi. Acara Lounching Kampoeng Seni pun berhasil diselenggarakan meski dengan sederhana namun berlangsung meriah dan mendapat dukungan berbagai seniman Kota Tegal. Bahkan Wali kota Tegal H. Ikmal Jaya SE, AK pun tertarik untuk hadir didampingi istri tercintanya Rosalina Ikmal. Bahkan beberapa unsur DPRD Kota Tegal dan muspida ikut hadir di malam pembukaan tersebut. Dodo pun tidak cuma bermaksud menujukkan dukungan dari para seniman Tegal saja. DI malam pembukaan itu ia juga menghadirkan kelompok seni qosidah dari ibu-ibu pengajian yang ada di daerah setempat.

Atas keberhasilan itu iabarat sebuah magnet, Pelukis Dodo terus dipacu semangatnya oleh berbagai macam potensi warga Tegal yang berkeinginan menyelenggarakan even dan kegiatan di Kampoeng Seni. Pelatih tari Wahyu Boled pun bisa dicatat sebagai orang yang berjasa ikut meramaikan kegiatan pelatihan tari di kampung seni. Ia memanfaatkan ruang galeri atau ruang pamer yang luas untuk dijadikan latar pelatihan tari. Dan usahanya tidak sia-sia ia berhasil membidik dan menciptakan bibit penari kreasi di Tegal yang kemudian berkembang sendiri-sendiri dan kini semakin sering pentas di berbagai even di Kampoeng Seni. Sebut saja nama Jesika, Apri, Dena, Dini dkk. Bahkan kesenian Tongprek pun muncul dari gagasan DKT mensejajarkan diri dengan Group Balo-balo khas Tegal.

Dari potensi Kampoeng Seni yang berhasil dibangun Pelukis Dodo, selanjutnya melahirkan even yang menarik minat beberapa sponsor untuk mendukung gagasan meramaikan OW. PAI. Sebut saja Pesta Budaya PAI dan Malam Wisata Seni serta yang terakhir Malam Tahun Baru di Kampoeng Seni 2011. Dari beberapa kegiatan yang secara periodik menunjukkan kemajuan signifikan tersebut, oleh Widodo dibantu kawan-kawan pendukungnya seperti Ir. Wahyudi, Neno Heru Suwasono, Kanit Pariwisata PAI, Aiptu Bambang Suwidagdo, Agus Jembrong, Edi Kroto, Fauji Sungkar, Dyah Setyawati, Dwi Eri Santoso, Habib Muh, Mustofa Sungkar, Dirman, Roni, Yanto, Vera, Andi, Dika, Bontot Sukandar, Jutet dan Pelukis Isa dibantu oleh para pelukis Tegal lainnya.

Perkembangan selanjutnya Widodo pun memperoleh dukungan dari Endang Supriyani pengrajin Kriya khas Tegal, dan beberapa pelukis luar kota yang datang dan pergi mewarnai gairah berkesenian di Kampoeng Seni. Tak pelak Kampoeng Seni pun memperoleh dukungan besar para pemberi semangat kepada Pelukis Widodo seperti hanya dari Pelukis Wowok Legowo, Budayawan Eko Tunas dan Erwin Hercahyo intertain muda yang kodang di Tegal. Selanjutnya Kampoeng Seni pun berhasil menarik kedatangan Dalang Wayang Suket Slamet Gundono, Pengarang Muda Kirana Kejora dari Jakarta, Seniman ekonom Umang Belik dan beberapa seniman Indonesia lainnya yang singgah dan mampir di Tegal, baik dari Surabaya, Yogya, Semarang dan Bandung. Bahkan berbagai Tokoh akademisi di Universitas Pancasila Sakti Tegal yang dikomandoi Dosen muda Drs. Yana seringkali melakukan pengenalan kegiatan seni dan menggiring teman-teman mahasiswa untuk mengoleksi karya kria khas Tegal dan karya seni lukis produksi perupa Tegal,

Kampoeng Seni PAI Tegal pun kemudian semakin sering menjadi oyek gambar oleh para pengunjung wisata dan kerap kali jadi lokasi pembuatan film oleh kalangan sineas lokal dan nasional. Tak pelak sentuhan kamera Sutradara muda Wisnu Legowo Daryono Putra, Andi, Andika, dan Pakar Artistik Agus Kusnendi alias Agus Suling pun ikut serta menorehkan keterlibatannya membangun secara sukarela di Kampoeng seni termasuk juga Dari unsur sastra dan pedalangan kontemporer oleh Ki Tapa Kelana bersama pasangannya, dan kini Kampoeng Seni pun bertambah ramai karena Widodo berhasil mengajak sahabatnya pengusaha Seni Lukis untuk hijrah membangun bisnis di PAI berupa Pasar Seni Pantai Alam Indah yang sudah tiga bulan ini menjadi usaha yang memperoleh perhatian penuh dari masyarakat Tegal dan sekitarnya.

Kemenarikan Pasar Seni yang dibangun Yamin asal Purwokerto campuran Surabaya ini kian bertambah semangat karena ia berhasil membangun usahanya dengan dukungan kawan lamanya Pelukis Handoyo yang dikenal sebagai Pelukis Religi untuk kalangan Nasrani dan Mustofa Sungkar yang mulai tertarik berbisnis Seni rupa di Tegal dan Indonesia. Selain karena harganya yang murah dan terjangkau kocek masyarakat Tegal Pasar seni di Kampoeng Seni PAI juga menyajikan berbagai karya lukis siap tampil menghiasi ruang dan rumah terbilang sangat murah meriah. Perkembangan meningkatnya daya beli seni rupa di Tegal pun ditunjukkan setelah Kampoeng Seni di PAI menunjukkan kegiatan pameran sepanjang tahun ini.

Kampoeng seni sejak awal tahun 2012 ini telah mempercantik diri dengan upaya mengembangkan potensi seni di berbagai bidang. Utamanaya telah menyediakan sarana apresiasi untuk pemutaran film, warung apresiasi, menyewakan tempat untuk perkemahan seni, kegiatan ulang tahun dan pesta kebun serta pesta-pesta lain yang berkaitan dengan alam dan lingkungan. Untuk terwujudnya pengembangan ini tangan-tangan kreatif Agus Kusnendi, Fadel, Roni Gar, Yamin dan orang yang ikut mensuportnya seperrti Fauji Sungkar, Ahmad Farihi, dan Riyanto.

Perkembangan ini tentu saja semakin mempererat hubungan pertemanan dan persaudaraan yang ada di masyarakat seni Kota Tegal. Terbukti nama-nama seperti Yono Daryono, M. Entieh Mudakir, Nurhidayat Poso, Rofii Dimyati, Sisdiono Ahmad, Musisi Bintoro, Adi Suriali, Zaenal Mutaqin, Lebe Penyair, pelukis Masruri, Lanang Setiawan, H. Tambari Gustam, Slamet Bramanti, Slamet Ambari, Lukman, kawan muda Lincak Perkusi dan Oase Band serta group-grop band anak muda Tegal yang berhasil dihimpun oleh Teuku Syahdan dan kawan-kawan penyandang Sinok Sitong 2010 hadir sebagai penyemangat dan ikut serta mengusung keberadaan PAI melahirkan even-even segar untuk semua kalangan guna menyambut Visit Jawa Tengah 2013 dan Tegal Kota Wisata 2014. ***

.

Komentar