PASCA LEBARAN POTONG KERBAU



Sabtu Siang itu sepanjang jalan menuju Pelabuhan Karang Song Indramayu dipenuhi umbul-umbul dan spanduk menampilkan promo aneka macam produk. Di halaman Depan Kantor KUD Mina Sumitra telah dipasang beberapa tenda dan di kanan kirinya Nampak dua ogoh-ogoh baru selesai dibuat oleh tangan-tangan terampil dalam wujud ikan tengiri dan kerapu dalam ukuran rasaksa. Sementara itu disudut kanan pinggir sungai purwa kali Sukagumiwang Kelurahan Paoman kerumunan massa semakin menjelang sore kian ramai. Tampak beberapa orang menarik seekor kerbau dan mengikatnya di bawah rindang pohon bahujan. Beberapa orang lainnya menyiapkan sesaji di atas nyiru berhiaskan daun pandan dan harum bunga tujuh rupa. Di sebelahnya anglo pembakaran kemenyan mulai dinyalakan dengan taburan kemenyan. Lelaki berikat kepala hitam itu mulai komat-kamit merapalkan mantra sesaji seperti memohon keselamatan akan datangnya peristiwa ritual yang dinanti. Usai menyiapkan ramuan wangi di sebuah ember hitam yang berisi air, bunga, sabun dan sampoo, lelaki itu mulai mengikat kepala kerbau dengan kain putih. Itu sebagai tanda penghormatan akan dipenggalnya kepala kerbau untuk sarana sesaji ritual Meron yang akan dilarung di tengah laut. “Peristiwa ritual pemotongan kerbau bagi masyarakat nelayan Indramayu merupakan tradisi yang dinantikan. Selain berharap akan berkah, juga merupakan persiapan persiapan pelaksanaan pesta laut atau nadran. Tradisi ini sudah dilakukan selama berates tahun oleh masyarakat nelayan Indramayu,” jelas H. Ono Surono ketua KUD Mina Sumitra Indramayu. Lebih lanjut dijelaskan pula oleh H. Ono perihal peluncuran Meron atau sesaji Nadran yang disimpan dalam miniatur kapal penangkap ikan yang kemudian digiring mulai dari halaman depan Kantor KUD Mina Sumitra menuju pelabuhan kemuddian dilarung ke tengah laut jawa dengan iringan berbagai macam aktifitas seni budaya masayarakat nelayan dalam arak-arakan atau helaran budaya pantura. Bebrapa saat usai member penjelasan soal prosesi pemotongan kerbau. Pawang yang telah menandikan kerbau dengan air bertabur bunga dan sabun wangi itu kembali memerintahkan beberapa orang untuk melumpuhkan kerbau agar direbahkan di tanah. Upaya ini dimaksudkan agar mudah bagi petugas yang akan menyembelih kerbau. TAk pelak enam petugas begal menarik tambang yang mengikat keempat kaki kerbau menjadi dua ikatan dari dua arah menjadi sebuah pertunjukan yang menegangkan. Merasa terusik dan sakit karena datangnya jeratan yang mengikat kakinya, kerbaupun mengamuk. Hidungnya mendengus. Dari mulutnya keluar busa dan suara lenguh yang panjang. Meski tubuh dan tenaganya besar, Kerbau yang mengamuk menimbulkan berhamburnya debu tanah kering yang tersaruk kaki-kakinya membuat adegan pelumpuhan kerbau itu menjadi pertunjukan yang menarik. Meski begitu anak-anak yang menonton bukannya takut malah berdesakan semakin berusaha melihat adegan tersebut dari dekat. Tak ayal pagar yang membatasi penonton jebol. Suara gedubrak dan jatuhnya anak-anak yang berdesakan menjadi bertambah meriah.

Peristiwa pelumpuhan kerbau yang menegangkan dalam waktu tak kurang lima belas menit selesai, setelah dating dua orang lagi ikut melumpuhkan dengan cara menekuk tengkuk kaki kerbau. Serentak masyarakat penonton bersorak. Tubuh kerbau hitam yang gemuk itu lalu ambruk ke tanah. Berikutnya delapan orang yang melumpuhkannya berusaha memindahkan letak posisi kerbau. Kepalanya menghadap ke arak timur dengan tubuh membujur dari utara ke selatan. Tak beberapa lama seorang yang bertugas menyembelih kepala kerbau mulai membaca mantra. Berikutnya tepuk tangan kembali meriuhkan suasana manakala dalam sekejap leher kerbau terputus dengan taburan darah segar berwarna merah mersimbah di bumi pertiwi. Dan beberapa orang kembali datang membawa ember plastik untuk mewadahi darah juga daging yang telah dipotong-potong setelah kepala kerbau dipisahkan secra khusus untuk persembahan pada penguasa laut sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat dan hidayah yang Allah berikan pada masyarakat Nelayan Indramayu. Sore itu masyarakat nelayan pun kembali kerumah masing masing setelah berhasil menyaksikan ritual pemotongan kerbau. “Konon menurut orang tua di sini siappun yang ikut menyaksikan peristiwa penyembelihan kerbau untuk sarana sesaji Pesta Laut atau Nadran akan memperoleh berkah,” ujar H. Ono Surono Ketua KUD Mina Sumitra Indramayu. Lebih lengkapnya H. Ono menjelaskan perihal kepala kerbau yang esok harinya akan menjadi kelengkapan sesaji Meron untuk kemudian dilarungkan ke laut lepas. Adapun dagingnya akan dimasak dalam bentuk Gulai sebagai lauk pauk untuk sajian konsumsi bagi tamu dan masyarakat yang berkenan hadir di acara resepsi peluncuran Meron untuk Nadran nelayan Indramayu 2011. (Nurochman Sudibyo)

Komentar