Dyah Setyawati : YANG AKTIF, BACA PUISI KREATIF

Dyah Setyawati : YANG AKTIF, BACA PUISI KREATIFMembaca puisi itu sangatlah mudah. Semudah membalikkan tangan. Selain mengasyikkan, dengan seringnya kita membaca puisi akan menambah ilmu pengetahuan serta sikap percaya diri.

Kok bisa? Ya! Tentu saja bisa! Karena modalnya hanya membutuhkan kemauan, keberanian dan pengetahuan dasar tehnik membaca puisi.

Modal yang terpentingnya pun hanya cukup dengan menghilangkan 2M: Membuang Rasa Malu dan Malas. Karena rasa malu itu adalah penyakit yang menghambat kemajuan karier seseorang. Sedangkan perilaku Malas, adalah ciri-ciri orang yang tak punya cita-cita.

Hanya itu kah? Lagi-lagi, jawabannya, ya! Lalu bagaimanakah caranya? Jawabnya Latihan! Latihan! Dan latihan!

Bagaimana cara latihannya? Berikut ini Saya coba menyederhanakan tahapan-tahapan dalam proses latihan membaca puisi yang harus diperhatikan oleh pembaca puisi:

Pemahaman atau interpretasi
Dalam proses ini dibutuhkan ketajaman visi dan emosi dalam menafsirkan dan membedah isi puisi. Memahami isi puisi adalah upaya awal yang harus dilakukan oleh pembaca puisi. Untuk mengungkap dan mengurai makna yang tersimpan dari baris-baris kata yang dituliskan.

Mulai dari pengetahuan terhadap biografi pengarang, maksud dan makna judul, pemahaman terhadap setiap kata, sampai pada tahun penulisan, merupakan tugas pembaca puisi untuk mencarinya.

Tahapan ini menjadi dasar bagi tahapan berikutnya yang akan mengarah pada aplikasi pembacaan. --Seseorang tidak akan pernah bisa membaca puisi dengan baik, jika dia tidak memahami puisi itu.

Penghayatan
Jika pemahaman merupakan usaha kerja otak, maka penghayatan adalah usaha hati untuk memasukkan seluruh pengetahuan tentang puisi itu menjadi kekuatan emosi.

Karena setiap puisi berbeda, ia membutuhkan struktur emosi yang berbeda pula. Menghayati puisi sedih, tentu berbeda dengan menghayati puisi heroik. Setiap kata yang tertulis, memiliki makna spesifik yang harus menyatu dengan emosi setiap pembaca.

Pembacaan
Tahapan ini meliputi: Vokal (bahan dasar pembaca puisi), Artikulasi (kejelasan setiap pengucapan huruf dan kata), Diksi (pengucapan kata demi kata dengan tekanan yang bervariasi dan rasa), Tempo (cepat lambatnya pengucapan). Untuk itu kita harus pandai mengatur dan menyesuaikannya dengan kekuatan napas. Di mana harus ada jeda, menyambung atau mencuri napas.

Begitu juga dengan Dinamika (lemah kerasnya suara) —setidaknya harus sampai pada penonton, terutama pada saat lomba baca puisi. Kita ciptakan suatu dinamika yang prima dengan mengatur rima dan irama, naik turunnya volume, dan keras lembutnya diksi. Dan yang paling penting, mampu menjaga harmoni di saat naik turunnya nada suara. Adapun Modulasi (perubahan suara dalam membaca puisi), Intonasi (tekanan dan laju kalimat), Jeda (pemenggalan sebuah kalimat dalam puisi), dan mengatur Pernapasan --biasanya pernapasan yang digunakan dalam membaca puisi adalah pernapasan perut.

Penampilan
Salah satu faktor keberhasilan seseorang membaca puisi adalah kepribadian atau performance di atas pentas. Usahakan tenang, tidak gelisah, tidak gugup, berwibawa dan meyakinkan.

Gerakan seseorang ketika membaca puisi juga harus mendukung isi dari puisi yang dibaca. Jangan membuat gerakan klise dan kehilangan tenaga. Pada saat membaca puisi, harus bisa berkomunikasi. Memberikan sentuhan, bahkan menggetarkan perasaan dan jiwa audiens. Ada juga ekspresi untuk menampakkan hasil pemahaman, penghayatan dan segala aspek di atas dengan ekspresi yang proporsional serta wajar (tidak over akting).

Terakhir, harus konsentrasi. Pusatkan seluruh pikiran dan energy terhadap puisi yang akan di baca. Dengan pemaparan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca puisi bukan sekadar menyampaikan arus pemikiran sang penyair. Tapi juga harus menghadirkan jiwa puisi dan penyairnya. Kita, pembaca puisi, menjadi puisi dan penyair itu sendiri.

Jika sudah memahami tahapan-tahapan dalam konteks membaca puisi, maka untuk sebuah pentas pembacaan puisi akan lebih tidak sekedar membaca manakala diiringi dengan ilustrasi musik. Tetu saja musik pengiring tersebut dipilih agar mampu memberi kekuatan yang harmonis terhadap pembacaan puisi dan isi puisi itu sendiri.

Keasyikan membaca puisi dengan diiringi irama gitar, biola, tarian, gamelan, atau penggabungan dari musik, tari atau gerak teaterikal akan menambah bangunan suasana pentas pembacaan puisi. Tapi untuk jenis lomba baca puisi konfensional penambahan ini tidak dibolehkan. Namun demikian Dewan Kesenian Kabupaten Tegal yang diketuai Ir.Karwadi mendukung Niatan Komunitas Asah Manah yang bekerjasama dengan Komite Sastra DKKT untuk menyelenggarakan Lomba Baca Puisi Kreatif. Lomba ini menurut Ir. Karwadi guna mengakumudir kreatifitas generasi muda pecinta musik dan puisi. Adapun kolaborasinya dimaksudkan agar masyarakat dipancing agar lebih tertarik mengapresiasi puisi saat disuguhkan dengan sajian musik dan kreasi lainnya. “Bagi generasi muda yang aktif berpuisi dan bermusik dimanapun, silahkan bergabung dan daftarkan diri untuk ikut Lomba Baca Puisi Kreatif DKKT 2011 di Gedung Rakyat Slawi Kabupaten Tegal,” jelasnya. *** (Dyah Setyawati)

Komentar