MAKNA FILOSOFI PADA BATIK TULIS PANTURA

MAKNA FILOSOFI PADA BATIK TULIS PANTURA
oleh : Nurochman Sudibyo YS

Batik Tulis di Pantura sebagaimana yang berkembang di Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal dan Pekalongan hingga kini tercatat ikut mewarnai perkembangan penting seni batik di Indonesia. Batik tulis selain mengungkap banyak nilai-nilai histori juga telah cukup besar pengaruhnya dalam menghipnotis masyarakat dunia, sehingga batik sebagai bahan pakaian memiliki tempat dan reputasi yang signifikan di dunia mode saat ini.

Seni membatik pada intinya merupakan kesenian rakyat Indonesia. Di awal perkembangannya lebih mengutamakan sentuhan halus tangan-tangan perempuan. Tidaklah heran jika motif-motif hias pada batik di Indonesia dan khususnya yang ada di Pantura memiliki filosofi tersendiri. Makna-makna yang tersembunyi pada batik di Pantura itu jika direnungkan merupakan simbol energi masyarakat terhadap suasana hati dan pergerakan mereka dalam keikutsertaannya membangun negeri ini.

Beberapa filosofi yang dapat kita jadikan bahan renungan pada batik Paoman Indramayu misalnya untuk Batik dengan motif "Kembang Suket", memiliki makna filosofi rakyat Indonesia yang sangat tinggi. Kembang Suket , bukan hanya sekedar nama bunga rumput, atau grasenaceae. Kembang Suket memiliki makna bunga-bunga rakyat itu sendiri. Sosok rakyat kecil yang disimbolkan sebagai rumput atau kaum rumputan (gress root) memang hanya kalangan biasa. Ia bisa tumbuh dimana saja. Ia tak perlu disiram, dipupuk atau disemprot hama. Rumput dalam jenis apapun bermanfaat bagi manusia di dunia ini. Selain untuk berlindung berbagai hewan yang hidup di bumi, rumput juga menghasilkan daun-daun untuk makanan binatang peliharaan seperti kambing, kerbau, sapi , kelinci dan binatang hutan lainnya.

Jenis rumputan yang ditanam dan dipelihara manusia di pesawahan adalah padi. Padi ini pun menjadi sangat bermanfaat untuk kebutuhan kabohidrat bagi manusia, termasuk suku rumputan lainnya seperti gandum, dan jagung. Lihat betapa indahnya memandang rumputan yang menghiasi dunia sehingga bumi kita nampak hijau dipandang dari kejauhan. Lapangan sepak bola di berbagai Stadion juga menggunakan rumput hijau sebagai alas tempat bermain para tiem kesebelasan. Kembang atau bunga rumput yang nampak pada deretan rumput liar yang farian jenisnya, pada bunga jagung, gandum dan padi di saat mekar sungguh pemandangan yang indah dipandang mata.

Tak salah jika kaum wanita Indonesia khususnya masyarakat Indramayu yang menempatkan Batik "Kembang Suket" sebagai motif batik unggulan karena makna filosofisnya yang tinggi. Meski rumput hanya sebatas rumput, manakala ia dibutuhkan semakin suburlah rumput dengan sendirinya. Semakin ia dimusuhi semakin besar akibatnya. Lihat manakala rumput kita siram dengan minyak dan kita bakar ramai-ramai. Esoknya akan tumbuh jenis rumputan baru dalam waktu yang tak begitu lama. Begitu juga saat rumput dicabut maka rumput-rumput yang berkaitan satu dengan lainnya ikut terserabut pula. Belum lagi jika memaknai kembangnya. Rumput memang tumbuhan yang tak dilirik oleh siapapun yang tak memerlukannya. Namun demikian kembang Suket atau bunga rumputan adalah juga bunga-bunga negeri ini yang ikut serta membangun Indionesia untuk terus menerus mempertahankan kesuburan, penyerapan air, menanggulangi banjir, erosi, abrasi dan lain-lainnya.

Motif batik "Kembang Suket" menyimpan seribu makna tentang eksistensi rakyat. Mereka yang tak terjamah pupuk dan obat-obatan anti hama, tetap berbunga memberi keindahan yang lain. Mereka anak-anak negeri yang berprestasi menjadi Polisi, Tentara, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Sarjana, Profesor, Presiden, Menteri, Anggota DPR, Gubernur, Bupati, Wali Kota, Kepala Dinas, Camat, UPTD, Pengawas, Kepala Sekolah, Dosen, Guru, Pelajar dan mahasiswa teladan dan berprestasi tanpa uang sogokan, tanpa KKN, benar-benar atas prestasi dan kemandiriannya adalah Kembang Suket untuk negeri ini.

Filosofi BAtik Kembang Suket tentu saja baru satu dari ribuan motif batik di Indramayu. KArena masih ada Kembang Kapas, Kapal Kandas, Iwak Etong, Sawat Ruwet, Ganggeng Mina, dll yang juga memiliki makna dan filosofi yang tak kalah dahsyatnya sebagai kajian dan pemikiran kita menyemangati pembangunan di NKRI ini.

Begitu juga dengan Batik Cirebon Motif Mega-Mendung. Masyarakat menyebutnya demikian padahal aslinya Batik "Mega Mendung dan Wadasan" Motif hias pada batik Cirebon ini sungguh tepat dijadikan ikon Cirebon sepanjang masa. Meski motifnya mirip sekali dengan motif Tiongkok, Batik "Mega Mendung" justru menarik untuk digali dan dibanggakan karena motif ini bisa distilasi dan dikembangkan menjadi motif-motif yang semakin modern dengan tidak meninggalkan ciri khas tradisionalnya. Tidaklah heran manakala Batik Mega Mendung dijadikan seragam PGRI di Indonesia, Pegawai Negeri dan swasta di Cirebon, Pelajar mahasiswa, SLTA, SMP dan SD di Cirebon. Para ahli batik dan pembuat motif "Mega-Mendung" di Cirebon tidak mengambil motif asli batik "Mega Mendung" sebagai motif yang digunakan untuk seragam. HAl ini agar tetap menjaga motif aslinya manakala dikonsumsi menjadi kain batik para pecinta motif hias "Mega Mendung" di asaran dunia. Jadi manakala ada Menteri dari negara tetangga yng menggenakan pakaian batik dengan motif "Mega Mendung" tak akan minder jika melihat gorden, taplak meja, sapu tangan, sarung bantal, sprei, di hotelnya juga menggunakan motif batik "Mega Mendung". Ia malahan terkagum-kagum melihat motif "Mega Mendung" yang bisa distilasi dalam ribuan bentuk dan warna yang indah dan menyenangkan.

Lalu apakah makna filosofi pada motif Batik "Mega Mendung dan Wadasan" sehingga motif ini begitu disukai dan di kota Cirebon menjadi Ikon penting yang dimanfaatkan juga untuk hiasan arsitektur pada seluruh bangunan di kota ini, serta mengiasi pengadministrasian baik surat menyurat, amplop, sertifikat, ijazah, dan undangan-undangan yang membuat kemewahan tersendiri.

Dalam pandangan saya selaku bagian dari masyarakat sastra. Mega mendung bisa dimaknai impian, harapan, dan rizki dari langit. Ia sumber adalah ilmu dan sumber energi dan asal muasal hujan yang memberi kebutuhan air bagi kehidupan manusia. Sedangkan "Wadasan" adalah wadahnya. Dengan wadah inilah manusia harus siap menerima ilmu, menerima rizki, menerima anugrah dari Tuhan Yang Maha Pemberi. Jadi tidaklah salah jika para leluhur wong Cirebon mengajarkan rakyatnya untuk memakai batik dengan motif "Mega Mendung dan Wadasan. karena motif hias ini menyimpan makna dan filosofi yang tinggi. JAdilah Mendung dan wadasan agar menjadi manusia yang benar-benar manusia. Ia mengayomi sesama lainnya. IA mewadahi untuk kebersamaan satu dengan lainnya. Ia memberi kita wadahi, kita memberi mereka mewadahi begitu terus selanjutnya.

Kemenarikan motif batik tulis tradisional dengan simbol kerakyatan juga terdapat di Batik Tegal. Batik yang sentranya di Dukuh Benda Pangkah, Bangle dan Dukuh Salam Kabupaten Tegal serta di Kalinyamat untuk pembatik Kota Tegal. Mungkin karena dulunya satu keturunan para pembatik di Tegal memiliki nama-nama motif yang menarik dan bisa jadi simbol kerakyatan yang dahsyat. Sayangnya motif sebagus ini baru jadi kebanggaan belum dimanfaatkan sebagaimana Batik Mega Mendung dan Wadasan di Cirebon.

Motif hias batik tulis Tegal (awas jangan bilang Tegalan karena akan bermakna lain. Sebut saja Batik Tegal sebagaimana Batik Pekalongan, Batik Cirebon dan Batik Indramayu, jangan diberi an= ini bukan main-main!) memiliki banyak nama yang mengandung filosofi sebagaimana motif batik tegal yang dikenal dengan nama motif "Tapak Kebo", "Welut Gumbel", dan "Beras Mawur". Indah sekali mengapresiasi batik Khas Tegal motif "Tapak Kebo" ini sungguh bermakna filosofi yang tinggi. Dimana rakyat sejelek-jeleknya rakyat, sebodo-bodonya rakyat jika diumpamakan kerbau ia memiliki "Tapak" jejak sejarah. Rakyat memiliki peran penting yang tak perlu diingat dan dideklarasikan atau dirayakan. Sebab Tapak Kebo atau tapak rakyat setiap detik bergurat menorehkan sejarah pada negeri ini. Sungguh pesan moral rakyat yang tinggi dan sikap merendah kaum yang baik.

Begitu juga pada motif batik Tegal "Welut Gumbel". Welut atau belut diakui sebagai hewan sawah dan biota sungai yang memiliki kandungan protein tinggi. Masyarakat juga mengenalnya sebagai hewan sejenis ikan yang licin. Bahkan untuk manusia yang lihai dan pandai memainkan strategi disebut "kaya welut" atau licin seperti belut. Nah kalau belut saja sudah licin dan susah ditangkapnya apalagi kalau "Welut Gumbel". Motif ini bisa dimaknai sebagai simbol kepiawaian rakyat yang harus memiliki kepandaian dan kelincahan dalam usaha dan berjuang. Dijaman Penjajahan Belanda "Welut Gumbel" adalah simbol dan sandi penyerangan untuk menyerang kekuatan Belanda mencapai Kemerdekaan Indonesia. Welut Gumbel, perlawanan rakyat harus dalam bentuk persatuan sehingga tidak mudah dikalahkan. Hebat bukan?

Lalu bagaimana dengan makna filosofi "Beras Mawur" PAda batik Tegal? Ini juga sama dahsyatnya. Motif Hias BAtik Tulis "Beras Mawur" menyimbolkan kemakmuran yang paripurna. kemakmuran negeri ini baru bisa dikatakan makmur yangs ebenar-benarnya bila mana terjadi banyak "Beras Mawur" di mana-mana. Namun jika harga beras, dan posisi rakyat juga kesulitan memperoleh beras, banyak beras asing di negeri kita. Dan banyak juga rakyat yang kaliren kesulitan memperoleh beras, maka itu tandanya tidak ada "Beras Mawur". Boro boro dibilang makmur. "Beras Mawur" saja tak ada. Itulah beberapa filosofi sederhana yang menjadi energi perjuangan rakyat Pantura semenjak lama. Nama motif hias ini akan tterus memperoleh kajian dan pengamatans esuai perkembangannnya.***


* Pengamat Seni Budaya Pantura







Komentar